Senin, 26 September 2011

Daftar Kode Telepon Negara SLI International

Bagi anda yang ingin menelepon teman anda di negara lain, dan anda bingung mencari kode negara nya, berikut ini saya sampaikan daftar kode negara telepon International.
cara menelepon murah ke luar negeri menggunakan hp adalah :
SLI sesuai hp anda, misal :
simPATI / As : 01017
IM3 / Mentari : 01016
XL : 01000
kode SLI + kode negara + No phone
kalau anda malas baca satu persatu, silahkan anda tekan Ctrl + F ( kontrol + F ) dan masukkan nama negara nya atau kode negara nya, maka akan mudah di cari.
Afghanistan 93
Albania 355
Algeria 213
American Samoa +1-684*
Andorra 376
Angola 244
Anguilla +1-264*
Antigua +1-268*
Argentina 54
Armenia 374
Aruba 297
Ascension 247
Australia 61
Australian External Territories 672
Austria 43
Azerbaijan 994
Bahamas +1-242*
Bahrain 973
Bangladesh 880
Barbados +1-246*
Barbuda +1-268*
Belarus 375
Belgium 32
Belize 501
Benin 229
Bermuda +1-441*
Bhutan 975
Bolivia 591
Bosnia & Herzegovina 387
Botswana 267
Brazil 55
British Virgin Islands +1-284*
Brunei Darussalam 673
Bulgaria 359
Burkina Faso 226
Burundi 257
Cambodia 855
Cameroon 237
Canada 1
Cape Verde Islands 238
Cayman Islands +1-345*
Central African Republic 236
Chad 235
Chatham Island (New Zealand) 64
Chile 56
China (PRC) 86
Christmas Island 61
Cocos-Keeling Islands 61
Colombia 57
Comoros 269
Congo 242
Congo, Dem. Rep. of (Zaire) 243
Cook Islands 682
Costa Rica 506
Côte d’Ivoire (Ivory Coast) 225
Croatia 385
Cuba 53
Cuba (Guantanamo Bay) 5399
Curaçao 599
Cyprus 357
Czech Republic 420
Denmark 45
Diego Garcia 246
Djibouti 253
Dominica +1-767*
Dominican Republic +1-809* and +1-829*
East Timor 670
Easter Island 56
Ecuador 593
Egypt 20
El Salvador 503
Ellipso (Mobile Satellite service) 17625
EMSAT (Mobile Satellite service) 88213
Equatorial Guinea 240
Eritrea 291
Estonia 372
Ethiopia 251
Falkland Islands (Malvinas) 500
Faroe Islands 298
Fiji Islands 679
Finland 358
France 33
French Antilles 596
French Guiana 594
French Polynesia 689
Gabonese Republic 241
Gambia 220
Georgia 995
Germany 49
Ghana 233
Gibraltar 350
Global Mobile Satellite System (GMSS) 881
Globalstar 8818, 8819
Globalstar (Mobile Satellite Service) 17637
Greece 30
Greenland 299
Grenada +1-473*
Guadeloupe 590
Guam +1-671*
Guantanamo Bay 5399
Guatemala 502
Guinea-Bissau 245
Guinea 224
Guyana 592
Haiti 509
Honduras 504
Hong Kong 852
Hungary 36
ICO Global (Mobile Satellite Service) 17621
Iceland 354
India 91
Indonesia 62
Inmarsat (Atlantic Ocean – East) 871
Inmarsat (Atlantic Ocean – West) 874
Inmarsat (Indian Ocean) 873
Inmarsat (Pacific Ocean) 872
International Freephone Service 800
International Shared Cost Service (ISCS) 808
Iran 98
Iraq 964
Ireland 353
Iridium (Mobile Satellite service) 8816
Iridium (Mobile Satellite service) 8817
Israel 972
Italy 39
Jamaica +1-876*
Japan 81
Jordan 962
Kazakhstan 7
Kenya 254
Kiribati 686
Korea (North) 850
Korea (South) 82
Kuwait 965
Kyrgyz Republic 996
Laos 856
Latvia 371
Lebanon 961
Lesotho 266
Liberia 231
Libya 218
Liechtenstein 423
Lithuania 370
Luxembourg 352
Macao 853
Macedonia (Former Yugoslav Rep of.) 389
Madagascar 261
Malawi 265
Malaysia 60
Maldives 960
Mali Republic 223
Malta 356
Marshall Islands 692
Martinique 596
Mauritania 222
Mauritius 230
Mayotte Island 262
Mexico 52
Micronesia, (Federal States of) 691
Midway Island +1-808*
Moldova 373
Monaco 377
Mongolia 976
Montenegro 382
Montserrat +1-664*
Morocco 212
Mozambique 258
Myanmar 95
Namibia 264
Nauru 674
Nepal 977
Netherlands 31
Netherlands Antilles 599
Nevis +1-869*
New Caledonia 687
New Zealand 64
Nicaragua 505
Niger 227
Nigeria 234
Niue 683
Norfolk Island 672
Northern Marianas Islands +1-670*
Norway 47
Oman 968
Pakistan 92
Palau 680
Palestine 970
Panama 507
Papua New Guinea 675
Paraguay 595
Peru 51
Philippines 63
Poland 48
Portugal 351
Puerto Rico +1-787* or +1-939*
Qatar 974
Réunion Island 262
Romania 40
Russia 7
Rwandese Republic 250
St. Helena 290
St. Kitts/Nevis +1-869*
St. Lucia +1-758*
St. Pierre & Miquelon 508
St. Vincent & Grenadines +1-784*
Samoa 685
San Marino 378
São Tomé and Principe 239
Saudi Arabia 966
Senegal 221
Serbia 381
Seychelles Republic 248
Sierra Leone 232
Singapore 65
Slovak Republic 421
Slovenia 386
Solomon Islands 677
Somali Democratic Republic 252
South Africa 27
Spain 34
Sri Lanka 94
Sudan 249
Suriname 597
Swaziland 268
Sweden 46
Switzerland 41
Syria 963
Taiwan 886
Tajikistan 992
Tanzania 255
Thailand 66
Thuraya (Mobile Satellite service) 88216
Timor Leste 670
Togolese Republic 228
Tokelau 690
Tonga Islands 676
Trinidad & Tobago +1-868*
Tunisia 216
Turkey 90
Turkmenistan 993
Turks and Caicos Islands +1-649*
Tuvalu 688
Uganda 256
Ukraine 380
United Arab Emirates 971
United Kingdom 44
United States of America 1
US Virgin Islands +1-340*
Universal Personal Telecommunications (UPT) 878
Uruguay 598
Uzbekistan 998
Vanuatu 678
Vatican City 39; 379
Venezuela 58
Vietnam 84
Wake Island 808
Wallis and Futuna Islands 681
Yemen 967
Zambia 260
Zanzibar 255
Zimbabwe 263


Credit http://www.farraha.net/daftar-kode-telepon-negara-sli-international.html

Minggu, 25 September 2011

Header Hover Part 02

how to make Header Hover like mine. Arahkan cursor ke header ku dia akan menepi kesamping




Dashboard >>Design >>Edit HTML

cari kode:
h1.title {

pastekan kode ini diatasnya:
#header:hover{
padding-left: 30px;
-webkit-transition-duration: 5s;
}

Preview then Save Tempelate.


Credit : Princess Lettha

Sabtu, 24 September 2011

36 BUTIR-BUTIR PANCASILA

Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa (Tekad yang tunggal untuk melaksanakan lima kehendak) menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.
36 BUTIR-BUTIR PANCASILA/EKA PRASETIA PANCA KARSA

A. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
  1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
  3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
B. SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
  1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
C. SILA PERSATUAN INDONESIA
  1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
  3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
  4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
  5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
D. SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
  1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
  2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
  5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
  6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  8. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
E. SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
  2. Bersikap adil.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak-hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
  6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak bersifat boros.
  8. Tidak bergaya hidup mewah.
  9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
  10. Suka bekerja keras.
  11. Menghargai hasil karya orang lain.
  12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Ketetapan ini kemudian dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila. Tidak pernah dipublikasikan kajian mengenai apakah butir-butir ini benar-benar diamalkan dalam keseharian warga Indonesia.

Sila pertama


Bintang.
  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila kedua


Rantai.
  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga


Pohon Beringin.
  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat


Kepala Banteng
  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila kelima


Padi Dan Kapas.
  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Credithttp://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila

Jumat, 23 September 2011

EKOLOGI LAUT

Ekologi laut merupakan ilmu yang mempelajari tentang Ekosistem air laut. Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang, dan padang lamun. Berikut penjelasan tentang ekologi laut.

  1. Laut
Habitat air laut (oceanic) ditandai oleh salinitas yang tinggi dengan ion Cl- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termocline.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.

  1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.
  • Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
  • Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
  • Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
  • Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m). 

      Gambar 1. Pembagian Ekosistem air laut berdasaarkan kedalamannya
  1. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut :
    • Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
    • Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
    • Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
    • Abisal pelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.
    • Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman
      lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.
Organisme-organisme yang hidup di laut antara satu pembagian daerah dengan daerah lain berbeda-beda. Berikut gambarannnya :
Gambar 2. Organisme yang terdapat di zona Pelagic laut : (a) Chaetoceros; (b) Biddulphia; (c) Nitzchia; (d) Gymnodinium; (e) Tallassiosira; (f) ceratium; (g) Coccolithophoorids; (h) Favella; (i) Globigerina; (j) Protocystis; (k) Clione; (l) Calanus; (m) Pelagia; (n) Tomopteris; (o) Saggita; (p) Euphausia; (q) Balaenoptera; (r) Physeter; (s) Apherusa; (t) Cylocsalpa.

Gambar 3. Ikan-ikan yang terdapat di kedalaman laut: (a) Argyropelecus; (b) Bthypterois; (c) Linophryne; (d) Lasiognatus; (e) Malacostus; (f) Edriolynchus; (g) Gigantactis; (h) Macropharynx

Gambar 4. Binatng bentik yang terdapat di laut dalam : (a) Eremicaster; (b) Ophiura; (c) Odostomia; (d) Diastylis; (e) Ischnomesus; (f) Storthyngura; (g) Neotanais.

Gambar 5. Organisme yang terdapat di zona neritik laut. (a) Ulva; (b) Ectocarpus; (c) Alaria; (d) Sargassum alga cokelat; (e) Rhodimenia; (f) Polyshiphonia; (g) Podon; (h) Phtisicia; (i) Thia larva; (j) Branacle nauplius; (k) Acartia; (l) Phyllosoma larva dari lobster; (m) Plathynereis; (n) Ostrea; (o) Snail Larva; (p) Larva Brittle Bintang; (q) Gadus; (r) Solea.

  1. Ekosistem Pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Sebagai daerah perbatasan antara ekosistem laut dan ekosistem darat hempasan gelombang dan hembusan angin maka pasir dari pantai membentuk gundukan ke arah darat. Setelah gundukan pasir itu biasanya terdapat hutan yang dinamakan hutan pantai.









Gambar 6. Ilustrasi kehidupan ekosistem pantai (pesisir)
Tumbahan pada hutan pantai cukup beragam. Tumbuhan tersebut bergerombol membentuk unit-unit tertentu sesuai dengan habitatnya. Suatu unit vegetasi yang terbentuk karena habitatnya disebut formasi. Setiap formasi diberi nama sesuai dengan spesies tumbuhan yang paling dominan.
Di daerah pasang surut sendiri dapat terbentak hutan, yaitu hutan bakau. Hutan bakau biasanya sangat sukar ditempuh manusia karena banyaknya akar dan dasarnya terdiri atas lumpur.
Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.
Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut. Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia
1. Formasi Pres-Caprae
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan).
2. Formasi Baringtonia
Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.
Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera.
Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

  1. Estuari

Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.
Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air. Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup yang terdapat di hilir sungai dan masih berhubungan dengan laut, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran air laut dan air tawar dari sungai atau Drainase yang berasal dari muara sungai, teluk, rawa pasang surut.
Bentuk estuaria bervariasi dan sangat bergantung pada besar kecilnya air sungai, kisaran pasang surut, dan bentuk garis pantai. Kebanyakan estuaria didominasi subtrat Lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar maupun air laut. Karena partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik, subtrat dasar estuaria biasanya kaya akan bahan organik. Bahan organic ini menjadi cadangan makanan utama bagi organisme estuaria. Berikut gambar beberapa contoh estuaria:
Klasifikasi
  1. Estuaria berstratifikasi nyata atau bajigaram dicirikan oleh adanya batas yang jelas antara air tawar dan air laut, didapatkan dilokasi dimana aliran air tawar lebih dominant ketimbang penyusupan air laut.
  2. Estuaria bercampur sempurna atau estuaria homogen vertical, pengaruh pasang surut sangat dominant dan kuat sehingga air bercampur sempurna dan tidak membentuk stratifikasi.
  3. Estuaria berstratifikasi sebagian (moderat), paling umum dijumpai. Aliran air tawar seimbang dengan masuknya air laut bersama arus pasang.
Berikut penjelasan pada gambar dibawah ini:
Biota estuaria
  1. Hewan
  • Spesies endemik (seluruh hidupnya tinggal di estuaria) seperti berbagai macam kerang dan kepiting serta berbagai macam ikan.
  • Spesies yang tinggal di estuaria untuk sementara seperti larva, beberapa spesies udang dan ikan yang setelah dewasa berimigrasi ke laut.
  • Spesies ikan yang menggunakan estuaria sebagai jalur imigrasi dari laut ke sungai dan sebaliknya seperti sidat dan ikan salmon.
  1. Tumbuhan
    • Tumbuhan Lamun (sea grass)
    • Algae makro (sea weeds) yang tumbuh di dasar perairan.
    • Algae mikro yang hidup sebagai plankton nabati atau hidup melekat pada daun lamun.
Karakteristik estuaria
  1. Keterlindungan: karena estuaria merupakan perairan semi tertutup sehingga biota akan terlindung dari gelombang laut yang memungkinkan tumbuh mengakar di dasar estuaria dan memungkinkan larva kerang-kerangan menetap di dasar perairan.
  2. Kedalaman: relativ dangkal→ memungkinkan cahaya matahari mencapai dasar perairan→ tumbuhan akuatik dapat berkembang di seluruh dasar perairan, karena dangkal memungkinkan penggelontoran (flushing) dengan lebih baik dan cepat serta menangkal masuknya predator dari laut terbuka (tidak suka perairan dangkal).
  3. Salinitas air: air tawar menurunkan salinitas estuaria dan mendukung biota yang padat,aliran yang berlapis juga menguntungkan.
  4. Sirkulasi air: perpaduan antara air tawar dari daratan, pasang surut dan salinitas menciptakan suatu system gerakan dan transport air yang bermanfaat bagi biota yang hidup tersuspensi dalam air, yaitu plangton.
  5. Pasang: energinya merupakan tenega penngerak yang penting, antara lain mengangkut zat hara dan plangton serta mengencerkan dan meggelontorkan limbah.
  6. Penyimpanan dan pendauran zat hara: kemampuan menyimpan energi, daun pohon mangrove dan lamun serta alga mengkonversi zat hara dan menyimpanyasebagai bahan organik untuk nantinya dimanfaatkan oleh organisme hewani.
Produktivitas Hayati Estuaria
Ekosistem estuaria merupakan ekosistem yang produktif. Produktivitas hayatinya setaraf dengan prokduktivitas hayati hutan hujan tropik dan ekosistem terumbu karang. Produktivitas hayati estuaria lebih tinggi ketimbang produktivitas hayati perairan laut dan ketimbang perairan tawar sebab:
  1. Estuaria berperan sebagai penjebak zat hara.
Jebakan ini bersifat fisik dan biologis. Ekosistem estuaria mampu menyuburkan diri sendiri melalui :
    • Dipertahankanya dan cepat di daur ulangnya zat-zat hara oleh hewan-hewan yang hidup di dasar esutaria seperti bermacam kerang dan cacing.
    • Produksi detritus, yaitu partikel- partikel serasah daun tumbuhan akuatik makro (makrofiton akuatik) seperti lamun yang kemudian di makan oleh bermacam ikan dan udang pemakan detritus.
    • Pemanfaatan zat hara yang terpendam jauh dalam dasar lewat aktivitas mikroba (organisme renik seperti bakteri ), lewat akar tumbuhan yang masuk jauh kedalam dasar estuary, atau lewat aktivitas hewan penggali liang di dasar estuaria seperti bermacam cacing.
  1. Di daerah tropik estuaria memperoleh manfaat besar dan kenyataanya bahwa tetumbuhan terdiri dari bermacam tipe yang komposisinya sedemikian rupa sehingga proses fotosintesis terjadi sepanjang tahun. Estuaria sering memiliki tiga tipe tumbuhan, yaitu tumbuhan makro (makrofiton) yang hidup di dasar estuary atau hidup melekat pada daun lamun dan mikrofiton yang hidup melayang-layang tersusvensi dalam air (fitoplangton). Proses fotosintesis yang berlansung sepanjang tahun ini menjamin bahwa tersedia makanan sepanjang tahun bagi hewan akuatik pemakan tumbuhan. Dalam hal ini mereka lebih baik, dinamakan hewan akuatik pemakan detritus, karena yang dimakan bukan daun segar melainkan partikel-partikel serasah makrofiton yang dinamakan detritus.
  2. Aksi pasang surut (tide) menciptakan suatu ekosistem akuatik yang permukaan airnya berfluktuasi.
Pasang umumnya makin besar amplitudo pasang surut, makin tinggi pula potensi produksi estuaria, asalkan arus pasang tidak tidak mengakibatkan pengikisan berat dari tepi estuaria. Selain itu gerak bolak-balik air berupa arus pasang yang mengarah kedaratan dan arus surut yang mengarah kelaut bebas, dapat mengangkut bahan makanan, zat hara, fitoplanton, dan zooplangton.
Peran Ekologis Estuaria
Secara singkat, peran ekologi estuaria yang penting adalah :
  • Merupakan sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuari yang jauh dari garis pantai maupun yang berdekatan denganya, lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation).
  • Menyediakan habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan (feeding ground).
  • Memenuhi kebutuhan bermacam spesies ikan dan udang yang hidup dilepas pantai, tetapi bermigrasi keperairan dangkal dan berlindung untuk memproduksi dan/atau sebagai tempat tumbuh besar (nursery ground) anak mereka.
  • Sebagai potensi produksi makanan laut di estuaria yang sedikit banyak didiamkan dalam keadaan alami. Kijing yang bernilai komersial (Rangia euneata) memproduksi 2900 kg daging per ha dan 13.900 kg cangkang per ha pada perairan tertentu di texas.
Andaikata 2 kkal per gram berat basah, hasil ini berarti sekitar 580 kkal per m, atau sebanding dengan hasil ikan dari kolam buatan yang di kelola dan di pupuk paling intensif, tentu saja dengan mengigat bahwa tempat pemeliharaan kijing memerlukan masukan energi dari perairan yang berdekatan.
  • Sebagai tempat budidaya tiram dengan rakit seperti diterapkan di jepangan, dapat meningkatkan lima sampai sepuluh kali dari panen yang diperoleh populasi liar. Sehingga dapat menghasilkan makanan berprotein sebanyak 2.000 kkal per m setiap tahun (Burukawa, 1968).


  1. Terumbu Karang
Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.
Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.
Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.
Seluruh ekosistem di dunia disebut biosfer. Dalam biosfer, setiap makhluk hidup menempati lingkungan yang cocok untuk hidupnya. Lingkungan atau tempat yang cocok untuk kehidupannya disebut habitat. Dalam biologi kita sering membedakan istilah habitat untuk makhluk hidup mikro, seperti jamur dan bakteri, yaitu disebut substrat.
Dua spesies makhluk hidup dapat menempati habitat yang sama, tetapi tetap memiliki relung (nisia) berbeda. Nisia adalah status fungsional suatu organisme dalam ekosistem. Dalam nisianya, organisme tersebut dapat berperan aktif, sedangkan organisme lain yang sama habitatnya tidak dapat berperan aktif. Sebagai contoh marilah kita lihat pembagian nisia di hutan hujan tropis.
Terumbu karang adalah ekosistem yang unik diantara ekosistem yang lainnya, karena ekosistem ini tersusun dari deposit kapur kalsium karbonat (CaCo3)yang sebagian besar dibentuk oleh karang sehingga paktor linkungan yang mempengaruhi pertumbuhan karang juga mempengaruhi keberadaan ekosistem (White, 1987). Terumbu karan hanya terdapat di laut tropik. Penghasil utama kalsium karbonat ini adalah karang pembentuk terumbu karang yaitu karang hermatipik (stony/hard corals). Suatu hewan avertaberata yang termasuk filum cnidaria, kelas anthozoa, ordo scelerectina yang mirif dengan ubur-ubur, dengan sedikit penambahan deposit kalsium karbonat., dan jenis mikro alga atau ganggang laut yang bersimbiosi dengan karang.

















Gambar 8. Struktur Terumbu Karang
Karang memiliki tentakel yang mengelilingi mulut dan dalam tentakel tedapat sel penyengat (nematokis) yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsanya, dengan tentakel tersebut individu karang dinamakan polip karang. Warna tentakel karang keras secara umum tidak berwarna atau bening seperti ubur-ubur, namun ada pula beberapa coklat mudah, polip karang keras umumnya hidup berkoloni. Dan mereka menyatukan rangka kapur satu dengan yang lainnya, sehingga dari luar mereka terlihat seperti batu kapur. Kelompok karang lainya yang terdapat di terumbu karang adalah kelompok karang lunak, kelompok anemon, dan kelompok kipas laut. Dengan adanya kelompok-kelompok karang maka terbentuk lah suatu hamparan terumbu karang di mana di dalamnya tedapat beberapa tumbuhan dan berbagai hewan laut lainya.

Simbiosis Mutualime Polip Karang dengan Zooxantellae
Polip karang bersimbiosis dengan alga bersel tunggal (monuceluler), yang terdapat dalam jaringan endoderm karang. Alga ini termasuk dalam dinopllagelata marga symbiodinium yang mempumyai klorofil untuk proses fhotosintesis. Alga ini dapat disebut sebagai zooxantellae.







Gambar 9. Terumbu Karang Ketika Berkoloni
Zoxantellae mendapatkan keuntungan karena ia mendapat tempat tinggal yang aman di dalam tubuh si polip karang keras. Sedangkan polip karang keras mendapatkan keuntungan karena mendapatkan makanan dari hasil fhotosintesis alga yaitu oksigen dan energi. Hasil metabolisme makanan dari karang diambil Zoxantellae untuk proses photosintesis dengan bantuan sinar matahari, kemudian hasilnya di manfaatkan polip karang. Dengan demikian keduanya saling ketergantungan dan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada salah satunya. Zoxantellae adalah salah satu penyusun karang yang paling penting. Tanpa peran zooxantella terumbu karang tidak akan terbentuk karena polip karang keras tidak akan dapat hidup tanpa Zoxantellae.

Syarat-Syarat Karang Dapat Berkembang dengan Baik
Perairan bersih, bebas sediment, dan polusi, perairan yang masih bisa tembus cahaya, ada beni (planula), adanya arus, ada subtrat untuk menempel, kekeruhan dan pencerahan, ada gelobang, suhu atau temperature (suhu yang paling baik adalah 18 – 40 pada suhu yang optimal adalah 23 – 25), kedalaman air antara 1-50 meter kedalaman optimalnya 25 meter secara pertikal dan horizontal, dan salinitas antara 30-36 %.


Tipe Terumbu Karang
Terdapat tiga tipe terumbu karang, yaitu 1. terumbu karang tepi (fringing reef/shore reef), 2. terumbu karang penghalang (barrier reef), 3. terumbu karang cincin atau atoi.
Terumbukarang cincin atau atoi merupakan terumbu karang yang berbentuk cincin yang muncul dari perairan dalam dan jauh dari daratan.
Terumbu karang tepid dan terumbu karang penghalang berkembang sepanjang pantai. Perbedaanya adalah bahwa terumbu karang penghalang terdapat lebih jauh dari daratan dan terdapat di perairan yang lebih dalam disbanding dengan terumbu karang tepi. Karenanya kedua tipe ini sering di kelompokan. Diasia tenggara termasuk Indonesia terumbu karang tepi merupakan tipe yang paling umum didapatkan.
Perkembang Biakan pada Karang

















Gambar 10. Proses Perkembangbiakan Terumbu Karang
  1. Secara Aseksual.
Polip karang keras dapat berkembang biak secara aseksual, yakni tanpa peleburan sel sperma dan sel telur. Mereka dapat berkembang biak antara lain dengan cara membelah diri, bertunas, dan fragmentasi. Membelah diri berarti dari satu polip karang kemudian membentuk kembaranya dan menjadi dua polip karang, demikian seterusnya sehingga terbentuk koloni karang. Bertunas yakni dari satu polip karang keras kemudian muncul polip karang baru seperti pada tunas pepohonan. Secara Frag mentasi yakni dengan terlepasnya salah satu dari bagian polip karang keras berikut rangkanya. Jika kondisi alam menguntungkan, maka bagian yang terlepas itu kemudian hidup menempel dan membentuk koloni baru.
  1. Secara seksual
    • Satu polip karang kers dapat mengeluarkan sel telur ke air, dan polip karang keras yang lain dapat melepaskan sel sperma ke air.
    • Di dalam air sel telur dan sel sperma itu akan melebur menjadi satu dan membentuk larva (planula), yakni calon atau benih polip karang keras yang baru.
    • Setelah menjalani hidup seperti plangton selama 1 bulan, larva karang keras akan menuju dasar laut dan mencari subtract untuk menempel. Tempat keras/ subtract yang dicari pada umunya adalah timbunan kapur, atau bekas rangka kapurdari suatu koloni karang yang telah mati.
    • Setelah larva karang keras menempel, ia akn berubah menjadi satu polip karang keras. Kemudian dari satu polip karang keras ini ia kembali berkembang biak secara membelah diri dan bertunas sehingga terbentuklah koloni karang keras yang baru.
Peran Terumbu Karang
  • Terumbu karang penghalang melindungi pantai dari hempasan ombak → mencegah terjadinya erosi pantai dan kerusakan lain yang diakibatkan oleh aksi gelombang.
  • Terumbu karang menyadiakan tempat tinggal, tempat mencari makan (feeding groud), tempat pengasuhan (nusery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) bukan saja bagi biota laut yang hidup di terumbu karang tetapi juga bagi biota laut yang hidup di perairan di sekitarnya.
  • Sebagai sumber makanan dan mata pencaharian nelayan.
  • Sumber bahan dasar untuk obat-obatan dan kosmetik seperti dari beberapa jenis alga atau rumput laut.
  • Sebagai objek wisata dan sebagai sarana rekreasi masyarakat.
  • sebagai sumber bibit budidaya dan menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian.

Pemanfaatan Sumber Terumbu Karang oleh Manusia
    • Berbagai sumber terumbu karang dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tak langsung oleh manusia. Usaha penangkapan ikan, udang, teripang dan penyu merupakan salah satu bentuk pemanfaatan langsung.
    • Jenis pemanfaatan langsung lain yang terdapat di Indonesia adalah penambangan karang batu sebagai bahan konstruksi dan bahan baku pembuatan kapur. Penambangan karang batu dapat menimbulkan kerusakan fisik pada terumbu, sehingga terumbu karang tidak lagi berfungsi baik sebagai penahan hempasan ombak. Akibatnya, timbul erosi pantai di daratan yang berhadapan dengan terumbu dan kerusakan fisik pada struktur yang terdapat di pantai.
  1. Padang Lamun
Tumbuhan lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga dan berpembuluh (vascular plant) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam air laut. Tumbuhan lamun jelas memiliki akar, batang, daun, buah dan biji. Lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas Alismatidae sukunya Hydroecharitaceae dengan contoh jenis Syrinsodium isoetifolium tumbuhan ini mempunyai beberapa sifat yang memungkinkan hidup di lingkungan laut yaitu:
      1. Mampu hidup di media air asin
      2. Mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam
      3. Mempunyai system perakaran jangkar yang berkembang baik
      4. Mampu melaksanakan penyerbukan dan daur generatif dalam keadaan terbenam
Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya seperti makro alga atau rumput laut (sea weeds). sea weed termasuk dalam difisi thallophys (tumbuh-tumbuhan berthalus), warna menjadi ciri khas tumbuhan ini, sifat khas difisi ini adalah antara akar, batang dan daun belum bias dibedakan.







Gambar 11. Perbedaan Lamun dengan Alga (Agar-Agar)
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan rantai yang dasarnya berupa Lumpur, pasir, krikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman 4 meter dalam perairan yang sangat jernih. Beberapa jenis lamun bahkan ditemukan tumbuh sampai 8-15 meter dan 40 meter.
Tempat yang banyak ditumbuhi lamun membentuk suatu ekosistem yang dinamakan padang lamun. Padang lamun adalah suatu hamparan ekosistem yang sebagian besar terdiri dari tumbuhan lamun dan dihuni oleh berbagai jenis biota laut seperti Bintang Laut, teripang, rumput laut (ganggang laut), dan berbagai jenis ikan.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa semakin lebat padang lamun, maka keanekaragaman dan kelimpahan spesies ikan akan meningkat, padang lamun dapat berbentuk vegetasi tunggal yang tersusun atas satu jenis lamun yang membentuk padang lebat (monospesifik) dan dapat juga membentuk vegetasi campuran yang terdiri dari 2-12 jenis lamun yang tumbuh bersama-sama pada satu subtract. Pada spesies lamun yang biasanya tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah thallassia Hemprichii, enhalus Acroides, Halophila ovalis, Halodule universis, Chymodocea serrulata, Thalassodendron ciliatum.
















Gambar 12. Beberapa Laum yang umum ditemukan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan lamun adalah: kecerahan, temperature, salinitas, substrat dan kecepatan arus.
  1. Kecerahan
Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan proses fotosintesis. Hal ini terbukti dengan hasil observasi yang menunjukkan bahwa distribusi lamun hanya terbatas pada perairan yang tidak terlalu dalam.
  1. Temperatur
Kisaran suhu optimal bagi lamun adalah 28-300 C. Kemampuan proses fotosintesis akan menurun dengan tajam apabila tempereatur perairan berada di luar kisaran optimal tersebut.

  1. Salinitas
Spesies lamun memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap salinitas, namun sebagian besar memiliki kisaran yang lebar yaitu 10-40%o. Nilai salinitas optimum untuk lamun 35%o. Salah satu factor yang menyebabkan kerusakan ekosistem padang lamun adalah meningkatnya salinitas yang diakibatkan oleh berkurangnya suplai air tawar dari sungai.
  1. Substrat
Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe subtract, mulai dari Lumpur sampai sediment dasar yang terdiri dari endapan Lumpur halus sebesar 40%. Kedalaman substrat berperan dalam menjaga stabilitas sediment yang mencakup 2 hal, yaitu pelindung tanaman dari arus air laut, dan tempat pengolahan serta pemasok nutrient.
  1. Kecepatan Arus Perairan
Produktivitas padang lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus perairan. Pada saat kecepatan arus sekitar 0,5 m/detik, jenis Thallassia testudium mempunyai kemampuan maksimal untuk tumbuh.



Perkembangbiakan dan Pemanfaatan Lamun
Reproduksi lamun dapat dilakukan secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan membentuk stolon, secara seksual dengan hydrophilus: plennya tersebar di badan air dan epihidrophyly: polennya berada dipermukaan air.
Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada  pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan   yang  datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau
mengasuh anaknya seperti ikan. Selain  itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii (Nontji, 1987).
Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya mapupun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit, mikroflora dan fauna.
Pada padang lamun ini hidup  berbagai macam spesies hewan, yang berassosiasi dengan padang lamun. Di perairan Pabama dilaporkan 96 spesies hewan yang berassosiasi dengan  beberapa jenis ikan. Di teluk Ambon di temukan 48 famili dan 108 jenis ikan. Di Teluk Ambon ditemuklan 48 famili dan 108 jenis ikan adalah sebagai penghuni lamun, sedangkan di Kepulauan Seribu sebelah utara Jakarta di temukan 78 jenis ikan yang berassosiasi dengan padang lamun. Selain ikan, sapi laut dan penyu serta banyak hewan invertebrata yang  berassosiasi dengan padang lamun, seperti: Pinna sp, beberapa Gastropoda, Lambis, Strombus, teripang, bintang laut, beberapa jenis cacing laut dan udang (Peneus doratum) yang ditemukan di Florida selatan (Nybakken, 1988)
Apabila air sedang surut rendah sekali atau surut purnama, sebagian padang lamun akan tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah Enhalus acoroides, sehingga burung-burung berdatangan mencari makann di padang lamun ini (Nontji, 1987).
Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut  dangkal yang paling produktif. Di samping itu ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, menurut hasil penelitian diketahui  bahwa peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
  1. Sebagai Produsen Primer
Lamun mempunyai tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu karang  (Thayer et al. 1975).
  1. Sebagai Habitat Biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan  dan makan   dari berbagai  jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
  1. Sebagai Penangkap Sedimen
Daun lamun yang  lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan  dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan  dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi ( Gingsburg & Lowestan 1958).
  1. Sebagai Pendaur Zat Hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran barbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.
Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. ekosistem lamun perairan dangkal mempunyai fungsi antara lain:
  • Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui I tekanan–tekanan dari  arus dan gelombang.
  • Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
  • Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
  • Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
  • Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
  • Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.
Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupuin secara modern.
Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk :
  1. Digunakan untuk kompos dan pupuk
  2. Cerutu dan mainan anak-anak
  3. Dianyam menjadi keranjang
  4. Tumpukan untuk pematang
  5. Mengisi kasur
  6. Ada yang dimakan
  7. Dibuat jaring ikan
Pada zaman modern ini, lamun telah dimanfaatkan untuk:
  1. Penyaring limbah
  2. Stabilizator pantai
  3. Bahan untuk pabrik kertas
  4. Makanan
  5. Obat-obatan
  6. Sumber bahan kimia.
Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun  masih belum banyak dikenal  baik pada kalangan akdemisi maupun  masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumnbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan  fungsi ekologisnya. Ekosistem padamg lamun memiliki atribut ekologi yang penting yang berhubungan dengan sifat fisika, kimia dan proses biologi antar ekosistem di wilayah pesisir dan proses keterkaitan ke tiga ekosistem ini Kerusakan Padang Lamun
Kerusakan yang terjadi pada padang lamun dapat disebabkan oleh natural stress dan anthrogenik stress. Natural stress bias disebabkan gunung meletus, sunami, kompetisi, predasi. Sedangkan anthrogenik stress bisa disebabkan :
  • Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
  • Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar matahari).
  • Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuntuk tambak memupuk tambak).
  • Water polution (logam berat dan minyak).
  • Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihandan cara penangkapannya yang merusak. 

Potensi Flora

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan tropis dengan formasi hutan bervariasi yang terbagi ke dalam 5 tipe vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove, vegetasi hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte dan vegetasi hutan hujan dataran rendah.
Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tipe Vegetasi Hutan Pantai
Tipe vegetasi ini tersebar di sepanjang garis pantai selatan dalam kelompok hutan yang sempit, umumnya menempati daerah sekitar teluk yang bertopografi datar, misalnya di Teluk Permisan, Teluk Meru, Teluk Bandealit, dan Teluk Rajegwesi. Formasi vegetasi hutan pantai terdiri dari 2 tipe utama yaitu formasi ubi pantai (Ipomea pescaprae), dan formasi Barringtonia (25 - 50 m) pada daerah pantai yang landai dan akan berkurang luasnya jika pantainya terjal dan berbatu. Formasi Pescaprae terdiri dari tumbuhan yang tumbuh rendah dan kebanyakan terdiri dari jenis herba, sebagian tumbuh menjalar. Jenis yang paling banyak adalah ubi pantai (Ipomoea pescaprae) dan rumput lari (Spinifex squarosus). Formasi Baringtonia terdiri dari keben (Baringtonia asiatica), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus tectorius) dan lain-lain.

Tipe Vegetasi Hutan Mangrove
Vegetasi ini dapat dijumpai di bagian timur Teluk Rajegwesi yang merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru dan Sukamade merupakan vegetasi hutan yang tumbuh di garis pasang surut. Jenis-jenis yang mendominasi adalah pedada (Sonneratia caseolaris) dan tancang (Bruguiera gymnorhiza). Di muara sungai Sukamade terdapat nipah (Nypa fruticans) yang baik formasinya.

Tipe Vegetasi Hutan Rawa
Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade. Jenis-jenis yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan (Mangifera sp), sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas), pulai (Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida).

Tipe Vegetasi Hutan Rheophyt
Tipe vegetasi ini terdapat pada daerah-daerah yang dibanjiri oleh aliran sungai dan jenis vegetasi yang tumbuh diduga dipengaruhi oleh derasnya arus sungai, seperti lembah Sungai Sukamade, Sungai Sanen, dan Sungai Bandealit. Jenis yang tumbuh antara lain glagah (Saccharum spontanum), rumput gajah (Panisetum curcurium) dan beberapa jenis herba berumur pendek serta rumput-rumputan.

Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah
Merupakan hutan campuran antara hutan hujan dataran rendah dengan hutan hujan tropis pegunungan. Aneka flora hutan hujan tropis dataran rendah menutupi hampir semua permukaan daratan Taman Nasional Meru Betiri yang memiliki iklim panas dan curah hujan cukup banyak, serta terbagi merata. Hutan hujan tropis pegunungan di atas ketinggian 600 - 1.300 m dpl. Sebagian besar kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri merupakan tipe vegetasi hutan hujan tropika dataran rendah. Pada tipe vegetasi ini juga tumbuh banyak jenis epifit, seperti anggrek dan paku-pakuan serta liana. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai diantaranya jenis walangan (Pterospermum diversifolium), winong (Tetrameles nudiflora), gondang (Ficus variegata), budengan (Diospyros cauliflora), pancal kidang (Aglaia variegata), rau (Dracontomelon mangiferum), glintungan (Bischoffia javanica), ledoyo (Dysoxylum amoroides), randu agung (Gossampinus heptaphylla), nyampuh (Litsea sp), bayur (Pterospermum javanicum), bungur (Lagerstromia speciosa), segawe (Adenanthera microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat (Lansium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona sureni), dan durian (Durio zibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu seperti : bambu bubat (Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum blumei), dan bambu lamper (Schizastychyum branchyladium). Di dalam kawasan juga terdapat beberapa jenis rotan, diantaranya : rotan manis (Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (Plectomocomia longistigma), rotan warak (Plectomocomia elongata) dan lain-lain.
Adapun luas tipe ekosistem pada setiap zonasi Taman Nasional Meru Betiri disajikan sebagaimana pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Luas Kawasan TN Meru Betiri Menurut Zonasi dan Tipe Ekosistemnya
Zona Pengelolaan
Luas (Ha)
Tipe Ekosistem (Ha)
HM
HP
HR
HHT
HRhe
Zona Inti
27.915
-
620
-
23.870
3.425
Zona Rimba
22.622
7
675
25
20.340
1.575
Zona Pemanfaatan Intensif
1.285
-
925
-
-
360
Zona pemanfaatan khusus
2.155
-
-
-
2.155
-
Zona Rehabilitasi
4.023
-
-
-
3.573
450
J u m l a h
58.000
7
2.220
25
49.938
5.810

Keterangan : HM = Hutan Mangrove; HP = Hutan Pantai; HR = Hutan Rawa; HHT = Formasi Hutan Hujan Tropis; HRhe = Hutan Rheophyte
Sumber : Peta intersect zonasi dan vegetasi tnmb

Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah teridentifikasi flora sebanyak 518 jenis, terdiri 15 jenis yang dilindungi dan 503 jenis yang tidak dilindungi. Contoh jenis yang dilindungi yaitu Balanopora (Balanophora fungosa) yaitu tumbuhan parasit yang hidup pada jenis pohon Ficus spp. dan Padmosari/Rafflesia (Rafflesia zollingeriana) yang hidupnya tergantung pada tumbuhan inang Tetrastigma sp. Selain itu terdapat pula jenis flora sebagai bahan baku obat/jamu tradisional, dimana berdasarkan hasil uji petik di lapangan telah teridentifikasi sebanyak 239 jenis yang dapat dikelompokkan dalam 7 habitus, yaitu bambu, memanjat, herba, liana, perdu, semak dan pohon. Jenis-jenis tumbuhan obat di Taman Nasional Meru Betiri berdasarkan bagian yang digunakannya dibagi ke dalam 19 bagian, yaitu air batang, akar, batang/kayu, biji, buah, bunga, cabang/ranting, daun, getah, kulit batang, pucuk daun, rimpang, semua bagian, umbi, zat pati/zat pahit, nira, abu kayu, air kelapa dan herba bagian atas. Beberapa jenis tumbuhan obat unggulan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah Cabe Jawa (Piper retrofractum), Kemukus (Piper cubeba), Kedawung (Parkia roxburghii), kluwek/pakem (Pangium edule), kemiri (Aleuritus moluccana), pule pandak (Rauwolfia serpentina), kemaitan (Lunasia amara), anyang-anyang (Elaeocarpus grandiflora), sintok (Cinnamomum sintok), dan kemuning (Murray paniculata).


Tipe dan Komposisi Jenis Vegetasi Lokal

Vegetasi lokal diartikan sebagai jenis-jenis tumbuhan asli setempat, alami, serta bukan merupakan jenis tumbuhan yang dimasukkan dari luar Kepulauan Seribu. Mengingat tempat hidup tumbuhan tersebut berupa pulau-pulau kecil, dataran rendah dengan sebagian areal dipengaruhi pasang surut dan sebagian berupa daratan, maka tipe vegetasi lokal yang terdapat di Kepulauan Seribu terdiri atas : vegetasi mangrove dan vegetasi pantai.

1. Vegetasi Mangrove
Ciri dari komunitas vegetasi mangrove antara lain : dipengaruhi pasang surut air laut, berair payau (salinitas > 1 o/oo), substrat lumpur berpasir dengan variasinya, vegetasi dicirikan dengan akar napas (pneumatofora). Jenis tumbuhan yang menduduki antara lain : bakau (Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata), pidada (Sonneratia alba), api-api (Avicennia marina) (Tabel 1).
Kondisi vegetasi mangrove saat ini telah banyak mengalami perubahan, akibat terkena abrasi, pencemaran minyak dan sampah padat. Hampir pada semua lokasi yang terdapat vegetasi mangrove, telah mengalami kerusakan. Oleh karena itu pelestarian vegetasi mangrove di masa mendatang perlu dilakukan rehabilitasi dan pemeliharaan secara terus menerus.

2. Vegetasi Pantai
Ciri dari komunitas vegetasi pantai antara lain : berada pada areal daratan yang berbatasan dengan daerah pasang surut air laut (berada di belakang vegetasi mangrove, atau berbatasan langsung dengan areal pasang surut), tidak terpengaruh pasang susut air laut, substrat daratan. Jenis tumbuhan yang menduduki antara lain : pandan (Pandanus tectorius), ketapang (Terminalia catappa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), waru laut (Hibiscus tiliaceus), butun (Barringtonia asiatica), centigi (Pemphis acidula). 

Variasi komunitas vegetasi pantai antara lain : 
  • formasi Pescaprae
  • Formasi Barringtonia

a. Formasi Pes-caprae
Terdapat pada batas belakang jangkauan pasang tertinggi dan memperoleh namanya dari tumbuhan berbunga ungu atau kangkung pantai (Ipomoea pes-caprae) yang merambat dan dominan. Sebagian besar tumbuhan ini merupakan perambat dengan akar-akar yang dalam sehingga dapat mengikat tanah/pasir dan memmerangkap bahan-bahan organik yang dieksploitasi oleh binatang dan tumbuhan. Jenis tanaman lain pada formasi ini antara lain : rumput angin (Spinifex littoreus), Ischaemum muticum, Euphorbia atoto.

b. Formasi Barringtonia
Dinamakan menurut nama pohon Barringtonia asiatica yang sering terdapat di pantai, meskipun tidak selalu dijumpai. Jenis pohon lain yang dijumpai antara lain : nyamplung (Calophyllum inophyllum), pandan (Pandanus tectorius), pace/mengkudu (Morinda citrifolia), kepuh (Sterculia foetida), ketapang (Terminalia catappa), pakis haji (Cycas rumphii), dadap (Erythrina variegata), waru (Hibiscus tiliaceus), waru laut (Threspesia populnea).
Luas vegetasi pantai di kawasan lindung Kepulauan Seribu lebih kurang 34 ha, yang berada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut (18 ha) dan Cagar Alam Pulau Bokor (16,79 ha). Namun demikian diluar kawasan lindung tersebut masih terdapat areal bervegetasi lokal (terutama vegetasi pantai).
Status dan Fungsi Vegetasi Lokal
1. Status Vegetasi Lokal
Berdasarkan statusnya, vegetasi lokal (vegetasi mangrove dan vegetasi pantai) tumbuh dan berkembang pada kawasan lindung (Suaka Margasatwa, Cagar Alam/Taman Laut, sempadan pantai) dan diluar kawasan lindung atau kawasan budidaya (pekarangan/kebun, tegalan).
Pada kawasan lindung (Suka Alam dan Cagar Alam/ Taman Laut), keberadaan vegetasi lokal (vegetasi mangrove dan vegetasi pantai) memiliki landasan hukum yang sangat kuat untuk tetap dipertahankan, dan pada kawasan ini sudah seharusnya tidak terjadi perubahan status pengelolaan atau perubahan peruntukan dan fungsi ruang. Namun demikian luas vegetasi lokal pada kawasan lindung Kepulauan Seribu relatif kecil dan diperkirakan lebih kurang 160,13 ha (18,7 %). Sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan lindung (Suaka Margasatwa dan Cagar Alam), maka fungsi utama pelestarian vegetasi lokal antara lain sebagai habitat satwaliar burung (SM. Pulau Rambut, Cagar Alam Pulau Bokor), serta sebagai pelestarian eksosistem alami setempat (CA. Penyaliran Barat, CA. Penyaliran Timur, CA. Peteloran Barat, CA. Pulau Lancang).
Vegetasi lokal yang berada pada kawasan lindung (sempadan pantai), tidak semua pantai pada masing-masing pulau di Kepulauan Seribu (yang dihuni) vegetasi lokalnya dipertahankan, karena untuk keperluan tempat berlabuh perahu, sarana pelabuhan dan bahkan pemukiman penduduk umumnya sampai ke pinggir pantai.

2. Fungsi Vegetasi Lokal

Secara keseluruhan pelestarian vegetasi alami dalam suatu kawasan budidaya dan lindung atau sebagai suatu kawasan hutan (Suaka Margasatwa dan Cagar Alam) mempunyai multi fungsi antara lain :
a. Sebagai habitat (tempat berlindung, berkembangbiak dan mencari pakan) satwaliar (burung, mamalia, reptilia)
b. Sebagai penghasil biomasa yang mempunyai andil besar dalam mendukung sistem penyangga kehidupan bagi organisma lain (ikan, udang, kepiting)
c. Sebagai penahan angin dan penahan abrasi (hantaman gelombang laut), serta menjaga stabilitas pulau-pulau kecil
d. Sebagai pengatur tata air, dan turut membantu mempertahankan kualitas dan kuantitas air bersih
e. Mencegah interusi air laut
f. Penghasil oksigen yang dilepas ke udara bebas
g. Sarana penelitian dan pendidikan
h. Sarana wisata alam terbatas
i. Penghasil bahan baku obat (tumbuhan, binatang)
j. Keterwakilan genetik, species, dan ekosistem asli Kepulauan Seribu
k. Penghasil kayu bangunan dan kayu bakar
l. Mempertahankan kekhasan, keunikan dan keindahan.


Formasi Mangrove

Pengertian Hutan Mangrove
Mangrove merupakan formasi-formasi tumbuhan pantai yang khas di sepanjang pantai tropis dan sub tropis yang terlindung. Formasi mangrove merupakan perpaduan antara daratan dan lautan. Mangrove tergantung pada air laut (pasang) dan air tawar sebagai sumber makanannya serta endapan debu (silt) dari erosi daerah hulu sebagai bahan pendukung substratnya. Air pasang memberi makanan bagi hutan dan air sungai yang kaya mineral memperkaya sedimen dan rawa tempat mangrove tumbuh. Dengan demikian bentuk hutan mangrove dan keberadaannya dirawat oleh pengaruh darat dan laut. (FAO, 1994).
Di Indonesia, mangrove telah dikenal sebagai hutan pasang surut dan hutan mangrove, atau hutan bakau. Akan tetapi, istilah bakau sebenarnya hanya merupakan nama dari istilah satu jenis tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu Rhizophora spp.
Karakteristik Hutan Mangrove
Karakteristik hutan mangrove dapat dilihat dari berbagai aspek seperti floristik, iklim, temperatur, salinitas, curah hujan, geomorphologi, hidrologi dan drainase. Secara umum, karakteristik habitat hutan mangrove digambarkan sebagai berikut (Bengen, 2000):
  • Umumnya tumbuh pada daerah intertidal yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung atau berpasir.
  • Daerahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari maupun yang hanya tergenang pada saat pasang purnama. Frekuensi genangan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove.
  • Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.
  • Terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Air bersalinitas payau (2-22 permil) hingga asin (hingga 38 permil).
Struktur Vegetasi Hutan Mangrove
Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri dari 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda dan Conocarpus) yang termasuk ke dalam delapan famili (Bengen, 2000).
Selanjutnya, menurut Bengen (2000) bahwa vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang termasuk ke dalam empat famili: Rhizophoraceae (Rhizophora, Bruguiera dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia), Avicenniaceae (Avicennia) dan Meliaceae (Xylocarpus).
Fauna Hutan Mangrove
Fauna yang hidup di ekosistem mangrove, terdiri dari berbagai kelompok, yaitu: mangrove avifauna, mangrove mammalia, mollusca, crustacea, dan fish fauna (Tomascik et al., 1997). Komunitas fauna hutan mangrove membentuk percampuran antara dua kelompok: (1) Kelompok fauna daratan/terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas insekta, ular primata dan burung. Kelompok ini tidak mempunyai sifat adaptasi khusus untuk hidup di dalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan sebagian besar hidupnya di luar jangkauan air laut pada bagian pohon yang tinggi, meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan lautan pada saat air surut. (2) Kelompok fauna perairan/akuatik, yang terdiri atas dua tipe, yaitu: yang hidup di kolom air, terutama berbagai jenis ikan dan udang ; yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya.
Hubungan Saling Bergantung Antara Berbagai Komponen
Ekosistem Hutan Mangrove
Ekosistem merupakan satu atau serangkaian komunitas beserta lingkungan fisik dan kimianya yang hidup bersama-sama dan saling mempengaruhi (Nybakken, 1988). Tumbuhan mangrove mengkonversi cahaya matahari dan zat hara (nutrien) menjadi jaringan tumbuhan (bahan organik) melalui proses fotosintesis. Tumbuhan mangrove merupakan sumbe makanan potensial, dalam berbagai bentuk, bagi semua biota yang hidup di ekosistem mangrove. Berbeda dengan ekosistem pesisir lainnya, komponen dasar dari rantai makanan di ekosistem mangrove bukanlah tumbuhan mangrove itu sendiri, tapi serasah yang berasal dari tumbuhan mangrove (daun, ranting, buah, batang dan sebagainya). Sebagian serasah mangrove didekomposisi oleh bakteri dan fungi menjadi zat hara (nutrien) terlarut yang dapat dimanfaatkan langsung oleh fitoplankton, algae ataupun tumbuhan mangrove itu sendiri dalam proses fotosintesis; sebagian lagi sebagai partikel serasah (detritus) dimanfaatkan oleh ikan, udang dan kepiting sebagai makanannya. Proses makan memakan dalam berbagai kategori da tingkatan biota membentuk suatu rantai makanan
Manfaat Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah vegetasi hutan yang hanya dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah tropis, seperti Indonesia. Mangrove sangat penting artinya dalam pengelolaan sumberdaya di sebagian besar wilayah Indonesia. Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pantai adalah menjadi penyambung darat dan laut. Tumbuhan, hewan, benda-benda lainnya dan nutrisi tumbuhan ditransfer ke arah darat atau ke arah laut melalui mangrove. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis dan ekonomi yang sangat bermanfaat bagi ummat manusia. Secara ekologis, hutan mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai jenis ikan dan, udang, kerang-kerangan dan spesies lainnya. Selain itu, serasah mangrove (berupa daun, ranting dan biomassa lainnya) yang jatuh di perairan menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktivitas perikanan perairan laut di depannya. Lebih jauh, hutan mangrove juga merupakan habitat (rumah) bagi berbagai jenis burung, reptilia, mamalia dan jenis-jenis kehidupan lainnya, sehingga hutan mengrove menyediakan keanekaragaman (biodiversity) dan plasma nutfah (genetic pool) yang tinggi serta berfungsi sebagai sistem penunjang kehidupan. Dengan sistem perakaran dan canopy yang rapat serta kokoh, hutan mangrove juga berfungsi sebagai pelindung daratan dari gempuran gelombang, tsunami, angin topan, perembesan air laut dan gaya-gaya dari laut lainnya.
Potensi ekonomi mangrove diperoleh dari tiga sumber utama, yaitu hasil hutan, perikanan estuarin dan pantai, serta wisata alam. Secara ekonomi, hutan mangrove dapat dimanfaatkan kayunya secara lestari untuk bahan bangunan, arang (charcoal) dan bahan baku kertas. Hutan mangrove juga merupakan pemasok larva ikan, udang dan biota laut lainnya.
Permasalahan Hutan Mangrove di Indonesia
Pertambahan penduduk yang demikian cepat terutama di daerah pantai, mengakibatkan adanya perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan, hutan mangrove dengan cepat menjadi semakin menipis dan rusak di seluruh daerah tropis.
Permasalahan utama tentang pengaruh atau tekanan terhadap habitat mangrove bersumber dari keinginan manusia untuk mengkonversi areal hutan mangrove menjadi areal pengembangan perumahan, kegiatan-kegiatan komersial, industri dan pertanian. Selain itu juga, meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan eksploitasi berlebihan terhadap hutan mangrove. Kegiatan lain adalah pembukaan tambak-tambak untuk budidaya perairan, yang memberikan kontribusi terbesar bagi pengrusakan mangrove. Dalam situasi seperti ini, habitat dasar dan fungsinya menjadi hilang dan kehilangan ini jauh lebih besar dari nilai penggantinya.
Barangkali, dari semua ancaman yang serius bagi mangrove adalah persepsi di kalangan masyarakat umum dan sebagian besar pegawai pemerintah yang menganggap mangrove merupakan sumberdaya yang kurang berguna yang hanya cocok untuk tempat pembuangan sampah atau dikonversikan untuk keperluan lain. Sebagian besar pendapat untuk mengkonversi mangrove berasal dari pemikiran bahwa lahan mangrove jauh lebih berguna bagi individu, perusahaan dan pemerintah daripada hanya sebagai lahan yang berfungsi secara ekologi. Apabila persepsi keliru tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan mangrove Indonesia dan juga di dunia akan menjadi sangat suram.
 
Rekomendasi Pengelolaan Hutan Mangrove
Mangrove menggambarkan suatu sumber kekayaan dan keanekaragaman kehidupan. Pada suatu negara dimana tekanan penduduk dan ekonomi terhadap zona pantai cukup tinggi, seperti halnya Indonesia, hutan mangrove dikenal sebagai pelindung utama lingkungan pantai dan sumber ekonomi nasional yang sangat berharga.
Pada umumnya ada keterbatasan pemahaman tentang nilai dan fungsi mangrove diantara penentu kebijakan dan masyarakat umumnya, dan akibatnya hutan mangrove seringkali dipandang sebagai areal-areal kritis/rusak serta tidak berharga, yang perlu dipakai untuk kegunaan pemanfatan lain yang produktif. Meskipun demikian, nilai hakiki ekosistem mangrove sangat besar dan hanya akan disadari ketika investasi besar diperlukan untuk melindungi pantai dan bangunan-bangunan treatment air, sehingga dilakukan upaya untuk merehabilitasi kembali fungsi alami hutan mangrove.
Pada dasarnya terdapat tiga pilihan untuk pengelolaan dan pengembangan mangrove: (1) Perlindungan ekosistem dalam bentuk aslinya; (2) Pemanfaatan ekosistem untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa yang didasarkan pada prinsip kelestarian; (3) Pengubahan (atau perusakan) ekosistem alami, biasanya untuk suatu pemanfaatan tertentu.
Dalam kenyataannya, pertimbangan ekonomi dan ekologis tidak dapat dipisahkan dalam mengevaluasi berbagai alternatif pengelolaan mangrove. Pernyataan ini mencerminkan tumbuhnya apresiasi makna ekonomi ekosistem mangrove. Karenanya, konservasi dan pemanfaatan mangrove tergantung sepenuhnya pada perencanaan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan kebutuhan ekosistem mangrove. Usulan pengembangan dan kegiatan insidential yang mempengaruhi ekosistem mangrove hendaknya mencerminkan perencanaan dan pengelolaan sebagai berikut (Dahuri dkk., 1996):
  • Peliharalah dasar dan karakter substrat hutan dan saluran-saluran air.
  • Jaga kelangsungan pola-pola alamiah; skema aktivitas siklus pasang surut serta limpasan air tawar.
  • Peliharalah pola-pola temporal dan spasial alami dari salinitas air permukaan dan air tanah.
  • Peliharalah keseimbangan alamiah antara pertambahan tanah, erosi dan sedimentasi.
  • Tetapkan batas maksimum untuk seluruh hasil panen yang dapat diproduksi.
  • Pada daerah-daerah yang mungkin terkena tumpahan minyak dan bahan-bahan beracun lainnya, harus memiliki rencana penanggulangan.
  • Hindarkan semua kegiatan yang mengakibatkan pengurangan (impound) areal mangrove.
     
Mangrove mewakili sumberdaya hayati yang kaya dan beragam. Bagi Indonesia dengan tekanan penduduk dan ekonomi yang tinggi di kawasan pantai, hutan mangrove terbukti sebagai sumberdaya alam yang mendukung dan menjaga keseimbangan ekologis dan sumberdaya ekonomi nasional yang berharga. Berdasarkan kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. Dengan demikian, strategi yang diterapkan harus mampu mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai.


Credithttp://muislife.com/sekilas-tentang-mangrove.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...