Jumat, 23 September 2011

Tipe dan Komposisi Jenis Vegetasi Lokal

Vegetasi lokal diartikan sebagai jenis-jenis tumbuhan asli setempat, alami, serta bukan merupakan jenis tumbuhan yang dimasukkan dari luar Kepulauan Seribu. Mengingat tempat hidup tumbuhan tersebut berupa pulau-pulau kecil, dataran rendah dengan sebagian areal dipengaruhi pasang surut dan sebagian berupa daratan, maka tipe vegetasi lokal yang terdapat di Kepulauan Seribu terdiri atas : vegetasi mangrove dan vegetasi pantai.

1. Vegetasi Mangrove
Ciri dari komunitas vegetasi mangrove antara lain : dipengaruhi pasang surut air laut, berair payau (salinitas > 1 o/oo), substrat lumpur berpasir dengan variasinya, vegetasi dicirikan dengan akar napas (pneumatofora). Jenis tumbuhan yang menduduki antara lain : bakau (Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata), pidada (Sonneratia alba), api-api (Avicennia marina) (Tabel 1).
Kondisi vegetasi mangrove saat ini telah banyak mengalami perubahan, akibat terkena abrasi, pencemaran minyak dan sampah padat. Hampir pada semua lokasi yang terdapat vegetasi mangrove, telah mengalami kerusakan. Oleh karena itu pelestarian vegetasi mangrove di masa mendatang perlu dilakukan rehabilitasi dan pemeliharaan secara terus menerus.

2. Vegetasi Pantai
Ciri dari komunitas vegetasi pantai antara lain : berada pada areal daratan yang berbatasan dengan daerah pasang surut air laut (berada di belakang vegetasi mangrove, atau berbatasan langsung dengan areal pasang surut), tidak terpengaruh pasang susut air laut, substrat daratan. Jenis tumbuhan yang menduduki antara lain : pandan (Pandanus tectorius), ketapang (Terminalia catappa), cemara laut (Casuarina equisetifolia), waru laut (Hibiscus tiliaceus), butun (Barringtonia asiatica), centigi (Pemphis acidula). 

Variasi komunitas vegetasi pantai antara lain : 
  • formasi Pescaprae
  • Formasi Barringtonia

a. Formasi Pes-caprae
Terdapat pada batas belakang jangkauan pasang tertinggi dan memperoleh namanya dari tumbuhan berbunga ungu atau kangkung pantai (Ipomoea pes-caprae) yang merambat dan dominan. Sebagian besar tumbuhan ini merupakan perambat dengan akar-akar yang dalam sehingga dapat mengikat tanah/pasir dan memmerangkap bahan-bahan organik yang dieksploitasi oleh binatang dan tumbuhan. Jenis tanaman lain pada formasi ini antara lain : rumput angin (Spinifex littoreus), Ischaemum muticum, Euphorbia atoto.

b. Formasi Barringtonia
Dinamakan menurut nama pohon Barringtonia asiatica yang sering terdapat di pantai, meskipun tidak selalu dijumpai. Jenis pohon lain yang dijumpai antara lain : nyamplung (Calophyllum inophyllum), pandan (Pandanus tectorius), pace/mengkudu (Morinda citrifolia), kepuh (Sterculia foetida), ketapang (Terminalia catappa), pakis haji (Cycas rumphii), dadap (Erythrina variegata), waru (Hibiscus tiliaceus), waru laut (Threspesia populnea).
Luas vegetasi pantai di kawasan lindung Kepulauan Seribu lebih kurang 34 ha, yang berada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut (18 ha) dan Cagar Alam Pulau Bokor (16,79 ha). Namun demikian diluar kawasan lindung tersebut masih terdapat areal bervegetasi lokal (terutama vegetasi pantai).
Status dan Fungsi Vegetasi Lokal
1. Status Vegetasi Lokal
Berdasarkan statusnya, vegetasi lokal (vegetasi mangrove dan vegetasi pantai) tumbuh dan berkembang pada kawasan lindung (Suaka Margasatwa, Cagar Alam/Taman Laut, sempadan pantai) dan diluar kawasan lindung atau kawasan budidaya (pekarangan/kebun, tegalan).
Pada kawasan lindung (Suka Alam dan Cagar Alam/ Taman Laut), keberadaan vegetasi lokal (vegetasi mangrove dan vegetasi pantai) memiliki landasan hukum yang sangat kuat untuk tetap dipertahankan, dan pada kawasan ini sudah seharusnya tidak terjadi perubahan status pengelolaan atau perubahan peruntukan dan fungsi ruang. Namun demikian luas vegetasi lokal pada kawasan lindung Kepulauan Seribu relatif kecil dan diperkirakan lebih kurang 160,13 ha (18,7 %). Sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan lindung (Suaka Margasatwa dan Cagar Alam), maka fungsi utama pelestarian vegetasi lokal antara lain sebagai habitat satwaliar burung (SM. Pulau Rambut, Cagar Alam Pulau Bokor), serta sebagai pelestarian eksosistem alami setempat (CA. Penyaliran Barat, CA. Penyaliran Timur, CA. Peteloran Barat, CA. Pulau Lancang).
Vegetasi lokal yang berada pada kawasan lindung (sempadan pantai), tidak semua pantai pada masing-masing pulau di Kepulauan Seribu (yang dihuni) vegetasi lokalnya dipertahankan, karena untuk keperluan tempat berlabuh perahu, sarana pelabuhan dan bahkan pemukiman penduduk umumnya sampai ke pinggir pantai.

2. Fungsi Vegetasi Lokal

Secara keseluruhan pelestarian vegetasi alami dalam suatu kawasan budidaya dan lindung atau sebagai suatu kawasan hutan (Suaka Margasatwa dan Cagar Alam) mempunyai multi fungsi antara lain :
a. Sebagai habitat (tempat berlindung, berkembangbiak dan mencari pakan) satwaliar (burung, mamalia, reptilia)
b. Sebagai penghasil biomasa yang mempunyai andil besar dalam mendukung sistem penyangga kehidupan bagi organisma lain (ikan, udang, kepiting)
c. Sebagai penahan angin dan penahan abrasi (hantaman gelombang laut), serta menjaga stabilitas pulau-pulau kecil
d. Sebagai pengatur tata air, dan turut membantu mempertahankan kualitas dan kuantitas air bersih
e. Mencegah interusi air laut
f. Penghasil oksigen yang dilepas ke udara bebas
g. Sarana penelitian dan pendidikan
h. Sarana wisata alam terbatas
i. Penghasil bahan baku obat (tumbuhan, binatang)
j. Keterwakilan genetik, species, dan ekosistem asli Kepulauan Seribu
k. Penghasil kayu bangunan dan kayu bakar
l. Mempertahankan kekhasan, keunikan dan keindahan.


0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...