Kamis, 19 Mei 2011

TA'AWUN serta TANAASUR dan TARAAHUM

Ta'awun (saling tolong menolong), tanaashur (saling mendukung) dan taraahum (saling berkasih sayang) adalah merupakan buah dari ukhuwah. Karena apalah artinya berukhuwah jika kamu tidak membantu saudaramu ketika memerlukan dan menolongnya ketika dia ditimpa oleh cobaan, serta belas kasihan kepadanya ketika ia lemah.
Rasulullah SAW telah menggambarkan tuiuan saling tolong menolong dan keterikatan antara kaum Muslimin dalam bermasyarakat antara yang satu dengan lain dengan gambaran yang mantap. Sebagaimana dalam sabdanya:
"Mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan sebagian yang lainnya. (Rasulullah SAW sambil memasukkan jari-jari tangan ke sela jari jari lainnya) (HR. Muttafaqun 'alaih)
Satu batu merah tentu saja lemah, meskipun terlihat kuat. Dan seribu batu bata yang berserakan (tidak teratur), tidak mampu berbuat apa-apa yang tidak bisa berbentuk bangunan. Akan terbentuk bangunan yang kuat manakala batu bata itu disusun dengan teratur dalam susunan yang rapi dan kokoh sesuai dengan aturan yang berlaku. Ketika itulah akan terbentuk dari batu-batu tersebut dinding yang kokoh dan dari dinding-dinding itu akan terbentuk rumah yang kuat pula, yang tidak mudah dirobohkan oleh tangan-tangan yang merusak.
Rasulullah SAW dalam hadits lainnya juga menggambarkan keterikatan masyarakat Islam antara yang satu dengan yang lainnya dalam bentuk cinta dan kasih sayang sebagai berikut:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam (menjalin) cinta dan kasih sayang di antara mereka bagaikan tubuh yang satu, apabila ada anggota (tubuh) yang merasa sakit, maka seluruh anggota yang lainnya merasa demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim)
Anggota tubuh yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan dan tidak bisa terpisah serta tidak akan bisa hidup sendiri-sendiri. Maka tidak bisa terpisah antara alat pernafasan dengan alat pencernaan, atau keduanya dengan tekanan darah. Masing-masing saling menyempurnakan satu dengan yang lainnya. Maka dengan kerjasama antar bagian tubuh dan saling membantu, seluruhnya akan hidup dan akan terus berkembang dan bisa berperan aktif.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Orang-orang Muslim itu darahnya saling menyuplai, yang lemah di antara mereka akan berusaha membebaskan tanggungannya dan yang kuat di antara mereka berusaha menyelamatkan yang lemah, mereka adalah satu tangan (kekuatan) untuk menghadapi pihak-pihak selain mereka (musuh-musuh mereka), yang kuat membantu yang lemah dan yang cepat menolong yang lambat." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Rasulullah SAW juga memasukkan unsur (pemahaman) baru dalam menolong Muslim terhadap Muslim lainnya, yaitu dengan sabdanya:
"Tolonglah saudaramu, baik yang berbuat zhalim maupun yang dizhalimi," Nabi ditanya, "Kalau yang dizhalimi kami bisa menolong, bagaimana dengan orang yang menzhalimi wahai Rasulullah? Nabi SAW bersabda, "kamu pegang kedua tangannya atau kamu cegah dia dan kezhaliman, itulah cara kita menolongnya." (HR. Bukhari)
Al Qur'an Al Karim mewajibkan saling menolong dan memerintahkannya dengan syarat dalam hal kebaikan dan ketaqwaan. Ia mengharamkan dan melarang saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, Allah SWT berfirman:
"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al Maidaah: 2)
Al Qur'an juga memerintahkan agar orang-orang yang benman antara sebagian dengan sebagian lainnya saling berwalat (mendukung), itulah salah satu konsekuensi keimanan, sebagaimana dalam firman Allah SWT:
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perernpuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf mencegah dari yang munkar." (At-Taubah: 71)
Ini sebagai kebalikan dari sifat-sifat orang munafik yang juga berbuat demikian, sebagaimana firman Allah SWT:
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf." (At Taubah: 67)
Sebagaimana dilakukan juga oleh para sahabat, Allah SWT berfirman tentang mereka sebagai berikut:
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (Al Fath: 29)
Maksud dari ayat di atas adalah agar yang kuat itu membantu yang lemah, yang kaya mengulurkan tangan kepada yang miskin. Hendaknya seorang yang alim mengajari yang bodoh, yang tua mengasihi yang muda, begitu pun yang muda menghormati yang tua, dan hendaknya yang bodoh itu mengetahui kewajibannya terhadap yang alim, dan hendaknya seluruh kaum Muslimin berada dalan satu shaf untuk menghadapi tantangan dan konspirasi (persekongkolan) musuh baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam keadaan berbaris (bershaf-shaf), seakan-akan mereka bagaikan bangunan yang tersusun kokoh."(As-Shaf: 4)
TA’AWUN, SEBUAH KEHARUSAN
(Al Fikrah Ed.80 Th.2/Safar/1428 H)
Tolong menolong atau ta’awun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri. Kenyataan membuktikan, bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain, pasti tidak akan dapat dilakukan sendirian oleh seseorang meski dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu.
Ini menunjukkan, bahwa tolong-menolong dan saling membantu adalah keharusan dalam hidup manusia.Allah Ta’ala telah berfirman,”Dan tolong-menoolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah: 2)

A. Klasifikasi Manusia dalam Ta’awun.
Ada empat klasifikasi manusia di dalam tolong-menolong, yaitu:

1. Al-mu’in wal Musta’in.
Yaitu orang yang memberi pertolongan dan juga minta tolong. Orang ini memiliki sikap timbal balik dan inshaf (seimbang). Ia laksanakan kewajibannya dan ia juga mengambil apa yang menjadi haknya. Ia seperti orang yang berutang ketika sangat butuh, dan mengutangi orang lain ketika sedang dalam kecukupan.

2. La Yu’in wa la Yasta’in.
Yaitu orang yang tidak mau menolong dan juga tidak minta tolong. Ia ibarat orang yang hidup sendirian dan terasing, tidak mendapatkan kebaikan, namun juga tidak mendapat kejelekan orang. Dia tidak dicela karena tidak pernah mengganggu, namun tidak pernah mendapatkan kebaikan dan ucapan terima kasih karena tidak melakukan sesuatu untuk orang lain. Namun posisinya lebih dekat pada posisi tercela.

3.Yasta’in wa la Yu’in.
Yaitu orang yang maunya minta tolong saja, namun tidak pernah mau menolong. Ia adalah orang yang paling tercela, terhina dan terendah. Ia sama sekali tidak punya semangat berbuat baik dan tidak punya perasaan khawatir mengganggu orang. Tidak ada kebaikan yang diharapkan dari orang bertipe ini, maka cukuplah seseorang dianggap hina jika ketidakberadaannya membuat orang lain lega dan merdeka. Ia tidak mendapatkan loyalitas dan ukhuwah. Dan di masyarakat, ia bahkan sering menjadi penyakit dan racun yang mengganggu.

4. Yu’in wa la Yasta’in
Yaitu orang yang selalu menolong orang lain, namun dia tidak meminta balasan pertolongan mereka. Ini merupakan orang yang paling mulia dan berhak mendapatkan pujian. Dia telah melakukan dua kebaikan dalam hal ini, yaitu memberi pertolongan dan menahan diri dari mengganggu orang. Tidak pernah merasa berat di dalam memberi bantuan dan tidak pernah mau berpangku tangan ketika ada orang lain butuh pertolongan.

B. Beberapa Faedah Ta’awun
Dalam ta’awun ada banyak sekali manfaat yang dapat diambil, di antaranya :

1. Dengan tolong-menolong, pekerjaan akan dapat terselesaikan dengan lebih sempurna. Sehingga jika di satu sisi ada kekurangan, maka yang lain dapat menutupinya.

2. Dengan ta’awun dakwah akan lebih sempurna dan tersebar.

3. Ta’awun dan berpegang teguh kepada al-jama’ah adalah perkara ushul (pokok) dalam ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan tolong-menolong, maka telah terealisasi salah satu pokok ajaran Islam.

4. Dengan saling menolong dan kerja sama, maka akan memperlancar pelaksanaan perintah Allah, membantu terlaksananya amar ma’ruf dan nahi munkar. Saling merangkul dan bergandeng tangan akan menguatkan antara satu dengan yang lain, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alahi wasallam.

5. Ta’awun melahirkan cinta dan belas kasih antara orang yang saling menolong dan menepis berbagai macam fitnah.

6. Ta’awun mempercepat tercapainya target pekerjaan, dengannya pula waktu dapat dihemat. Sebab waktu amat berharga bagi kehidupan seorang muslim.

7.Ta’awun akan memudahkan pekerjaan, memperbanyak orang yang berbuat baik, menampakkan persatuan dan saling membantu. Jika dibiasakan, maka itu akan menjadi modal kehidupan sebuah ummat.

C. Bagaimana Mewujudkan Ta’awun
Agar ta’awun dapat terwujud dengan baik, maka harus diperhatikan kiat-kiat berikut ini:

1. Mengerti Masalah Khilaf.
Perbedaan pendapat itu ada dua macam, yaitu perbedaan tanawwu’(variatif) dan perbedaan tadhad (kontradiktif). Perbedaan tanawwu’ adalah perbedaan yang hanya menyangkut jenis dan macam amalan dan bukan masalah yang prinsip sehingga tidak diperbolehkan mengingkari pelakunya. Orang yang tidak faham masalah ini akan menganggap, bahwa setiap perbedaan adalah berlawanan (tadhad) dan bertentangan, sehingga siapa saja yang tidak sama dengannya dianggap sebagai lawan atau musuh. Masuk dalam perbedaan tanawwu’ yaitu perbedaan bidang kerja dan spesialisasi orang perorang. Ada yang memiliki kemampuan dalam bidang tulis-menulis, ada yang pandai berorasi, ada yang mampu berinfaq membangun masjid atau sekolah dan ada yang menangani bidang sosial kemanusiaan dst. Maka dalam hal ini, seseorang tidak boleh mencela yang lainnya, saling mengejek dan menganggap apa yang ia kerjakan adalah yang paling baik.

2. Menjauhi Penyakit Hati.
Kerja sama dan saling menolong tidak akan terealisasi, jika masing-masing elemen terkena penyakit hati, seperti hasad (dengki), benci dan dendam, amarah dan saling buang muka. Semua itu akan menyebabkan perpecahan serta menjadi penghalang dari terjalinnya ta’awun.

3. Mensosialisasikan Hadits Nabi Sallallahu ‘alahi wasallam, yang menjelaskan, bahwa orang-orang mukmin di dalam saling cinta, bergandengan dan berkasih sayang, seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakit.

4. Memperbaiki Hubungan Sesama Muslim.
Memperbaiki hubungan sesama muslim sangat mendukung terlaksananya ta’awun. Dengan hubungan yang baik, akan mencegah permusuhan dan menyambung tali ta’awun dan ukhuwah. Allah Ta’ala berfirman, “Sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara saudaramu.” (al-Hujurat:10).

5. Menyatukan Barisan dan Meminimalisir Perbedaan.
Dengan anjuran agar saling mempererat hubungan dan tolong-menolong serta menjauhi perpecahan umat, maka persatuan sangat mungkin diraih. Kita sadar, bahwa di antara tipu daya orang-orang kafir dan munafik adalah dengan mencerai beraikan persatuan dan melemahkan semangat ta’awun.

6. Membudayakan Sikap Ringan Tangan.Yaitu membiasakan diri agar mudah memberi bantuan kepada sesamamuslim, dan merasa senang dengannya. Merasa berat, dan enggan jika dimintai bantuan.

7. Menyadari Bahwa Ta’awun adalah Sebuah Keharusan di Setiap Tempat. Baik dengan anggota keluarga, sesama muslim dan tetangga, maka kapan seseorang merasa bahwa ta’awun adalah sebuah keharusan, maka dengan sendirinya ia akan cepat terealisasi.

8. Membiasakan Tepat Waktu.
Disiplin dan tepat waktu ketika melakukan pekerjaan bersama akan menumbuhkan semangat ta’awun. Karena ini menunjukkan adanya perhatian dan anggapan penting akan pekerjaan tersebut.

9. Pembagian Kerja.
Membagi pekerjaan sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing , sangat membantu proses ta’awun. Sebab seseorang yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya akan merasa senang dan menjadikan kerja sama lebih kuat dan membuahkan hasil yang efisien dan optimal .

10. Menyadari Pentingnya Da’wah. Dengan mengetahui pentingnya da’wah dan tujuan yang akan dicapai, maka akan mempererat jalinan ta’awun. Sebab seorang da’i pasti membutuhkan pihak-pihak yang membantu dan mendukungnya.

11. Menyadari bahwa salah satu sebab kemunduran dan lemahnya umat Islam adalah karena sikap saling menjauh antara mereka.

source : http://islamiccentretangsel.com/?p=715

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...